Released by: BMG Records

Dimaafkan jika butuh waktu lama bagi Avril Lavigne untuk menyusul album self-titled-nya yang dirilis di tahun 2013 lalu. Tidak hanya harus berpisah dengan suami, Chad Kroeger, di tahun 2015, ia juga harus berjuang melawan penyakit lyme yang menderanya. Tapi syukurlah Avril bukan jenis sosok yang mudah patah semangat, karena semuanya berbuah manis dengan dirilisnya album keenamnya ini, “Head Above Water“.

Terus terang, jeda 6 tahun bukanlah waktu yang singkat. Sudah banyak yang terjadi dalam skena musik pop, termasuk dengan perubahan gaya bermusik. Apalagi jika dibandingkan dengan 17 tahun lalu, saat Avril debut dengan gaya pop-punk enerjetiknya melalui album “Let Go”.

Meski gaya remaja putri pemberontaknya menjadi ciri khas Avril di beberapa album awalnya, namun tidak bisa dinafikan ia sudah beranjak jauh dewasa. Di usia 34 tahun, penggemar remajanya juga sudah beranjak dewasa, sehingga Avril harus menemukan formula baru di album mutakhirnya ini.

Tapi Avril tentunya tidak ingin melupakan akar bermusiknya juga, sehingga meski materi dalam album “Head Above Water” terkesan masuk dalam ranah adult-contemporary, termasuk lagu yang menjadi judul album, balada menyentuh ‘Head Above Water’, tapi album masih menyediakan ruang untuk sisi “rebelion” seorang Avril yang dulu membuat penggemar musik menyukai dirinya.

Tidak heran ada ‘Dumb Blonde’, sebuah lagu tentang female empowerment yang dengan sengaja dihadirkan dalam semangat bubblegum, dan mengajak Nicki Minaj sebagai tandem. Sebuah usaha yang patut dikagumi, namun mau tidak mau kita juga merasa Avril sudah agak out of touch. Lagunya terasa usang, meski ada Nicki yang membantu (apalagi jika mendengar versi minus Nicki untuk versi fisik album).

Beberapa lagu lain juga memiliki kesan seperti ini seperti ‘Souvenir’ yang playful atau balada minimalis ‘Goddess’, yang juga playful, tapi entah mengapa terkesan kurang menohok pendengaran. Mungkin Avril konsisten di track-track yang lebih “dewasa” saja, seperti ‘Head Above Water’ tadi atau beberapa track berkesan lainnya.

Avril terdengar segar saat ia memasuki doo-woop dalam ‘Tell Me It’s Over’ atau power-ballad seperti ‘It Was In Me’ atau ‘I Fell in Love with the Devil’. Tentu saja kita menginginkan Avril hanya bernyanyi dalam lagu-lagu power ballad saja untuk terdengar mencorong, namun formula di mana ia mencurahkan emosinya secara matang seperti dalam lagu-lagu tadi bolehlah dikembangkan lagi.

Namun selama Avril mengira lagu dengan judul seperti ‘Bigger Wow’ (hello, is it you Taylor Swift?) akan membuat dirinya tetap relevan, terlepas sebetapa catchy-nya lagu tersebut, maka boleh dikatakan ia memilih jalan yang kurang pas. Bukan berarti “Head Above Water” adalah album buruk atau membosankan. Sama sekali tidak. Jauh dari kosa kata membosankan. Hanya tone-nya menjadi tidak terlalu seimbang. Dan pada akhirnya kurang… wow saja.

Terlepas dari kekurangannya, sebagai pengobat rindu “Head Above Water” boleh lah. Hanya saja memang ekspektasi harus ditekan serendah mungkin untuk bisa benar-benar menikmati albumnya. Lagipula, terlepas dari beberapa materi yang terasa dangkal dan kosong, Avril masih menyediakan ruang dan hatinya untuk beberapa power-ballad yang mengesankan.

Official Website

TRACKLIST

1. “Head Above Water” 3:40
2. “Birdie” 3:35
3. “I Fell in Love with the Devil” 4:15
4. “Tell Me It’s Over” 3:09
5. “Dumb Blonde” (featuring Nicki Minaj) 3:34
6. “It Was in Me” 3:43
7. “Souvenir” 2:57
8. “Crush” 3:33
9. “Goddess” 3:41
10. “Bigger Wow” 2:55
11. “Love Me Insane” 3:00
12. “Warrior” 3:45